Rasa jenuh ini semakin mencekik bagai racun yang menutup jalan pernapasan. Dan parahnya, liburan sebagai obat penawarnya makin jauh dari jangkauan.
Sesak napas. Itu yang kurasakan.
Tapi, kala bayangmu singgah menghibur, kurasakan ada sedikit kelegaan menyeruak.
Kamu, yang kutemui di dunia antah berantah, kini begitu hebat menyita setiap jengkal alam imajinasiku.
Mengkhayalkan bayangmu. Ya, hanya bayangmu, karena wujud nyatamu ada di belahan petak lain daratan ini, yang walaupun jaraknya terukur dan mungkin, tapi kini terasa mustahil karena keadaan yang menjeratku.
Hai kamu… semoga suatu hari penguasa jagat raya ini ridho mempertemukan kita di dunia nyata. Di dunia yang mana aku bisa menyentuh sosok nyatamu, dan bukan lagi sekedar potret avatarmu